<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-385742950184948370</id><updated>2011-10-01T21:53:51.259+07:00</updated><title type='text'>(..___..)</title><subtitle type='html'>S@ng Jurn@lis ==&amp;gt;</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Kemal Permana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL1x_xKduDI/AAAAAAAAAEU/AJYA9SyJXVk/S220/Stand+alone..11.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-385742950184948370.post-5493105599644602339</id><published>2009-11-23T23:02:00.003+07:00</published><updated>2009-11-23T23:15:37.148+07:00</updated><title type='text'>Rohman Terseret Dua Kilometer</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/Swq0sASt9XI/AAAAAAAAAU0/4g-rxvj9u0s/s1600/Foto+Longsor_blog.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 194px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/Swq0sASt9XI/AAAAAAAAAU0/4g-rxvj9u0s/s320/Foto+Longsor_blog.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407332970697454962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ade Rohman (60) warga Kampung Bebedahan RT 02/06 &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1258992227_1"&gt;Desa&lt;/span&gt; Pasirlangu Kecamatan Pakenjeng, ditemukan sudah terbujur tak bernyawa setelah diseret longsor lumpur dan batu yang menerjang Desa Pasirlangu, Jumat (20/11). Mayat Ade Rohman baru bisa ditemukan pada Sabtu (21/11) pukul 11.00, namun baru bisa dievakuasi pada pukul 14.00.&lt;br /&gt;Menurut penuturan beberapa saksi mata warga Kampung Babakan,  longsor terjadi pada Jumat (20/11) sore sektiar pukul 16.20. Saat itu, longsor terjadi secara tiba-tiba setelah apda siang harinya kawasan tersebut diguyur hujan lebat. Menurut Camat Pakenjeng, Drs Jajat Darajat MSi, hujan terjadi sekitar pukul 12.00. Namun pada sore harinya, sekitar pukul 16.20 peristiwa longsor terjadi. Akibatnya, sebuah jembatan yang menghubungkan desa Bebedahan dengan Desa Mulkapari terputus total. Tidak hanya itu, longsor juga menerjang sebuah serang dimana saat itu, Ade Rohman, sedang membetulkan saluran air. "Saat sedang membetulkan saluran air itulah, longsor langsung menerjang Ade Rohman," terang Jajat.&lt;br /&gt;Tubuh Ade Rohman yang terseret lumpur dan batu longsoran tidak langsung bisa ditemukan hari itu. Baru pada Sabtu (21/11) siang sekitar pukul 11.00 jasad Rohman berhasil ditemukan warga di Kampung Mulkapari yang berjarak 2 kilometer dari Kampung Bebedahan. Jasad Rohman yang dievakuasi warga dalam keadaan sudah tidak bernyawa langsung dimakamkan saat itu juga.&lt;br /&gt;Selain menlan korban jiwa, sebanyak 60 kepala keluarga di Desa Pasirlangu langsung dievakuasi ke tempat lebih aman karena terancam bencana longsor sususal.&lt;br /&gt;Menurut Jajat yang kemarin didampingi Kabag Informatika &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1258992227_2"&gt;Dik Dik&lt;/span&gt; Hendrajaya, bencana longsor terjadi  setelah kawasan tersebut diguyur hujan deras, Jumat (20/11) siang hingga sore hari. Longsor di seluruh kawasan Pakenjeng sendiri, menurut Jajat tercatat sebanyak  19 titik. "Setidaknya terdapat 19 titik longsoran di Pakenjeng," ujar Jajat.&lt;br /&gt;Jajat menandaskan, selain longsor di Pasirlangu, longsor juga terjadi di Kampung Cilampuyang RT 05/06, Desa Tanjungjaya. Longsoran tanah yang berasal dari tebing menutupi badan jalan kabupaten yang menghubungkan desa tersebut dengan tiga desa lainnya, yaitu Desa Sukamulya, Neglasari dan Desa Karangsari.&lt;br /&gt;Akibat longsor tersebut, dikatakan Jajat, jalur tersebut sama sekali tidak bisa dilalui baik oleh kendaraan roda empat maupun roda dua. Semua kendaraan yang seharusnya melalui jalur tersebut, akibatnya terpaksa dialihkan ke jalur alternatif yang melalui jalan desa Sukamulya.  Dengan demikian, jalur yang harus ditempuh pun menjadi memutar dan jaraknya bertambah jauh.&lt;br /&gt;Semenytara itu, longsor yang terjadi di beberapa desa Kecamatan pakenjeng mengakibatkan ratusan siswa urung berangkat ke sekolah. Menurut seorang kepala sekolah &lt;span style="background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" class="yshortcuts" id="lw_1258992227_3"&gt;Madrasah&lt;/span&gt; Ibtidayah Mulkapasi, Ain Saepudin, ratusan siswa yang terdiri dari siswa SD hingga SMP dan MI, terpaksa diliburkan karena tidak bisa melintas menggunakan jalur jalan yang biasa dipakai mereka bersekolah. "Kami terpaksa meliburkan siswa yang berasal dari desa-desa yang tergerus longsor karena akses jalan menuju dan dari sana tertutup longsor sama sekali," katanya.&lt;br /&gt;Sementara Bupati Garut Aceng HM Fikri langsung memberikan bantuan berupa santunan kepada keluarga Ade Rohman yang meninggal. Bantuan diberikan melalui Camat Pakenjeng yang didampingi Kabag Informatika berupa uang tunai sebesar Rp 2,5 juta.&lt;br /&gt;Selain di Kecamatan Pakenjeng, longsor juga terjadi di sepanjang jalan antara Cisompet pameungpeuk tepatnya di Desa Sukamukti dan Desa Sukanagara, Kecamatan Cisompet.&lt;br /&gt;Menurut Kabag Informatika Dik DIk Hendrajaya, saat ini jalur jalan tersebut tidak bisa dilalui kendaraan roda dua dan empat. Longsor juga terjadi pada Jumat (20/11) pukul 17.30 setelah kawasan tesebut diguyur hujan selama 6 jam berturut-turut. "Selain itu ada beberapa rumah yang terancam longsor yaitu di Desa Sukanagara sebanyak 5 KK, Desa Depok 5 KK dan Desa Sindangasari sebanyak 17 KK," ujar Dik Dik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/385742950184948370-5493105599644602339?l=sangjurnalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/feeds/5493105599644602339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=385742950184948370&amp;postID=5493105599644602339' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/5493105599644602339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/5493105599644602339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/2009/11/rohman-terseret-dua-kilometer.html' title='Rohman Terseret Dua Kilometer'/><author><name>Kemal Permana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL1x_xKduDI/AAAAAAAAAEU/AJYA9SyJXVk/S220/Stand+alone..11.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/Swq0sASt9XI/AAAAAAAAAU0/4g-rxvj9u0s/s72-c/Foto+Longsor_blog.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-385742950184948370.post-1785335752532323696</id><published>2009-10-23T23:28:00.002+07:00</published><updated>2009-10-23T23:29:17.190+07:00</updated><title type='text'>Seumur Hidup, Trisna Hanya Tergolek Tak Berdaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SuHZ0dWXXcI/AAAAAAAAAUs/nnz4Cmyt3uI/s1600-h/Trisna_+20+Tahun+Tergolek_1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SuHZ0dWXXcI/AAAAAAAAAUs/nnz4Cmyt3uI/s320/Trisna_+20+Tahun+Tergolek_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395833323821424066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;RUMAH panggung berdinding bilik itu terlihat sepi. Di halaman rumah yang berukuran kurang lebih 5x4 meter di Kampung Cigasti Girang RT 01/02 Desa Margaluyu Kecamatan Leles Kabupaten Garut, tampak tumpukan potongan bambu. Kokom (50) nyonya pemilik rumah sedang tidak berada di rumah saat wartawan menyambangi rumahnya. Beruntung, tetangga Kokom bersedia dengan baik hati mencarikan Kokom yang sedang pergi ke luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;div class="deleteBody"&gt; &lt;p class="postBody" style="color: rgb(119, 119, 119);"&gt;Dari jendela kaca yang ada dirumah tersebut helaian gorden tampak terbuka meski tidak lebar. Dari situ terlihat di dalam ruangan itu nampak karpet merah yang biasa digunakan oleh bayi tidur terpasang. Di atas karpet tersebut, tergolek sesosok tubuh kecil yang dibalut sweater berwarna merah dengan celana training panjang biru tampak terlihat asyik berbaring menyaksikan sajian acara di televise dari TV berwarna 14 inci yang ada di tengah rumah tersebut.&lt;br /&gt;Awalnya tidak ada yang aneh melihat sosok tubuh tersebut. Namun setelah Kokom sang pemilik rumah datang dan membuka pintu rumahnya, baru terlihat jelas ada yang aneh dengan sosok yang tergolek yang dikenal sebagai Trisna, anak bungsu Kokom yang pada 15 Januari nanti akan genap berusia 20 tahun. Ternyata tubuh Trisna tidak tumbuh secara normal. Trisna hanya tergolek lemah tak berdaya layaknya bayi yang baru lahir. Kaki dan tangannya pun tidak bisa digerakan, lemas dan benar-benar tidak berdaya. Bahkan menurut Kokom, sang Ibu, hingga kini Trisna tidak bisa berbicara seperti anak seusianya. Trisna hanya bisa berguman setiap kali menginginkan sesuatu sambil terus berbaring di atas karpet merahnya.&lt;br /&gt;Koko mengatakan,  jika Trisna menginginkan sesuatu, seperti makan atau buang air dia hanya bisa bergumam atau menjerit kecil.&lt;br /&gt;Menurut dia, penderitaan anaknya ini berawal saat Trisna berusia tiga bulan. Saat itu Trisna menderita demam panas tinggi sampai kejang-kejang. Namun begitu panas Trisna hilang, pertumbuhan Trisna tidak lagi seperti bayi biasa. Trisna tidak bisa lagi tumbuh normal dan hanya tergolek lemah. Trisna hanya bisa bergerak kecil dari kaki dan tangan Trisna.&lt;br /&gt;Kokom sendiri tidak begitu menyadari gejala tersebut. Setelah menginjak usia 1 tahun, Kokom baru menyadari ada yang salah pada pertumbuhan anaknya. Karena pada usia tersebut biasanya bayi telah mulai belajar berdiri bahkan berjalan, namun tidak terjadi pada Trisna. Di usia&lt;br /&gt;tersebut, Trisna bahkan belum bisa untuk tengkurap sendiri. Trisna kecil saat itu hanya terbaring lemah.&lt;br /&gt;Kokom lantas mengaku dirinya tidak bisa berbuat banyak untuk mengobati ankanya. Menurut Kokom saat itu dirinya hanya berupaya melakukan pengobatan ke pengobatan tradisional karena&lt;br /&gt;tidak mampu berobat ke dokter. “Saat usia satu tahun Trisna masih belum juga bisa apa-apa, saya baru sadar ada yang salah, tapi karena tidak punya biaya, makanya saya hanya berobat ke pengobatan Tradisional,” terang Kokom.&lt;br /&gt;Kokom mengaku sempat putus asa mengobati anaknya ke pengobatan tradisional karena tidak kunjung sembuh hingga saat ini. sementara untuk ke dokter, Kokom mengaku tidak mampu karena tidak punya biaya. "Jangankan untuk mengobati Trisna ke dokter, untuk biaya hidup sehari-hari saja sudah sulit," katanya sambil menitikkan air mata.&lt;br /&gt;Saat ini, menurut Kokom setiap harinya Trisna hanya mampu terbaring lemah di ruangan tengah rumah biliknya. Di rruangan tersebut hanya ada sebuah kursi sudut untuk tamu dan meja buffet dengan TV 14 inch di atasnya. Otomatis ruang lapang untuk berbaring Trisna hanya tersisa sedikit, meski Trisna tidak bisa banyak bergerak saat berbaring.&lt;br /&gt;Setiap harinya menurut Kokom, karena himpitan ekonomi dirinya terpaksa harus meninggalkan anak bungsunya sendirian di rumah. Pagi hari setelah membereskan rumah, Kokom kemudian menyuapi Trisna makan pagi. Usai itu, Kokom pergi ke ladang untuk berkebun di atas tanah miliknya yang tidak terlalu luas. Hasil berkebun itu, hanya cukup untuk bertahan hidup saja.&lt;br /&gt;Kokm mengakui, aparat dari pemerintahan desa sudah beberapa kali mengunjungi dirinya dan melihat kondisi Trisna. Akan tetapi hingga saat ini belum ada bantuan dalam bentuk apapun yang diterima oleh Kokom untuk mengobati putrinya. "Terus terang saya sudah tidak mampu mengobati penyakit anak saya ini, saya sangat berharap pemerintah bisa ikut membantu saya," harapnya.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/385742950184948370-1785335752532323696?l=sangjurnalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/feeds/1785335752532323696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=385742950184948370&amp;postID=1785335752532323696' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/1785335752532323696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/1785335752532323696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/2009/10/seumur-hidup-trisna-hanya-tergolek-tak_23.html' title='Seumur Hidup, Trisna Hanya Tergolek Tak Berdaya'/><author><name>Kemal Permana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL1x_xKduDI/AAAAAAAAAEU/AJYA9SyJXVk/S220/Stand+alone..11.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SuHZ0dWXXcI/AAAAAAAAAUs/nnz4Cmyt3uI/s72-c/Trisna_+20+Tahun+Tergolek_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-385742950184948370.post-4689690516551377048</id><published>2009-10-20T02:11:00.004+07:00</published><updated>2009-10-20T03:01:05.040+07:00</updated><title type='text'>Mengais Rezeki Dari Limbah Daun Jagung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/StzE39VlK4I/AAAAAAAAAUA/QlcuTQIbRNA/s1600-h/Yayan+dan+Bunga+Hiasnya_1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/StzE39VlK4I/AAAAAAAAAUA/QlcuTQIbRNA/s320/Yayan+dan+Bunga+Hiasnya_1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394402919319939970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; DI ANTARA masyarakat Kampung Juru Pasar, Desa Jati, Kecamatan Terogong Kaler Kabupaten Garut, mungkin profesi yang ditekuni oleh Yayan Sofyan (35) sangat jauh berbeda dengan kebanyakan masyarakat di sekitarnya. Betapa tidak, di tengah kehidupan warganya yang kebanyakan merupakan seorang pedagang biasa, maka apa yang dijalankan Yayan boleh dikatakan jauh dari biasa.&lt;br /&gt;Bisa dibayangkan, pada saat musim panen jagung tiba, ia berangkat ke ladang jagung milik warga terdekat, namun bukan untuk ikut memanen jagung bersama para petani atau tetangganya, melainkan memburu daun jagung yang mulai menguning. Daun-daun itu kelak akan disulapnya menjadi sebauah produk kreatif yang akan menjadi sumber mata pencahariannya.&lt;br /&gt;Daun jagung kering berwarna kuning itu  di tangan Yayan bisa disulap menjadi rangkaian bunga hias kering yang sangat indah. Semua bahan baku utama produk kerajinannya, apalagi kalau bukan berupa daun-daun jagung yang dibiarkan kering hingga berwarna kekuningan.&lt;br /&gt;Ditemui belum lama ini, Yayan mengatakan, dirinya  terinspirasi mengubah daun jagung yang sering dibakar warga sesudah panen menjadi sebuah produk yang bisa menghasilkan rupiah. "Bagi sebagian orang,  daun jagung yang sudah dipanen hanya limbah belaka. Tapi, saya tertarik untuk memanfaatkannya menjadi bunga hias dengan tambahan bahan-bahan lain,” ujar Yayan.&lt;br /&gt;Yayan lalau menerangkan, dalam prosesnya, pembuatan bunga kering dari jagung ini cukup sederhana namun tetap membutuhkan ketelitian dan ketrampilan agar rangkaian bunga tetap menarik.&lt;br /&gt;Selain daun jagung, untuk membuat bunga kering memerlukan bahan baku yang bersifat alami seperti biji-bijian, batang kayu, dan lainnya. Alat-alat yang digunakan juga sederhana, berupa gunting, staples, dan lem saja.&lt;br /&gt;Di tangannaya, daun  jagung kering itu lalau doirangkai menjadi sebuah bunga hias indah. Begitu berada dalam genggaman, daun jagung kering itu akan berubah mnejadi produksi souvenir yang indah.&lt;br /&gt;Yayan menerangkan, dalam proses awal pembuatannya, daun jagung kering di tangannya ditekuk ke bagian dalam sehingga membentuk seperti cawan atau kelopak. Untuk satu rangkaian bunga terdiri dari 6-18 helai daun. "Setelah itu, tinggal pakai staples untuk merekatkan helai daun satu sama lain untuk membentuk sebuah kuntum bunga,” terangnya.&lt;br /&gt;Sepintas, hiasan bunga tersebut tak terlihat seperti berasal dari limbah daun jagung. Namun, setelah melalui proses penjemuran dan perwarnaan bahan tersebut dibentuk dan dirangkai menjadi setangkai bunga kering yang indah.&lt;br /&gt;Untuk bagian tangkai, terang Yayan, dia menggunakan bilah-bilah bambu yang telah dicat dan direkatkan ke mahkota bunga yang sudah berbentuk dengan lem. Sebagai pemanis, Yayan juga memanfaatkan serpihan pelepah pohon kelapa. Lalu bunga-bunga tersebut ditancapkan ke dalam pot yang sudah diberi gabus atau busa. Bagian pot itu terbuat dari sisa papan kayu yang tidak terpakai. Setelah dirangkai dan disatukan semua bagian-bagian tadi, maka akan terciplalah satu bunga hias indah nan manis.&lt;br /&gt;Yayan menerangkan, harga bunga hias kering tersebut bervariasi. Ukuran kecil dibanderol seharga Rp 15.000 saja. Untuk pot yang lebih besar, dia mernghargai Rp 42.000 hingga Rp 60.000. Dalam seminggu, Yayan bisa menjual lebih dari 30 pot bunga dengan berbagai ukuran.&lt;br /&gt;Kreasi bunga hias buatan Yayan memang banyak digemari kaum hawa. Selain harganya murah, bentuknya yang unik dan perawatan mudah juga menjadi daya tarik. “Semua produk diawali dari ide dan proses kreatif. Ketika limbah daun jagung disulap menjadi indah dan menghasilkan rupiah, maka tidak ada yang menyangka jika yang mereka beli itu berasal dari daun jagung yang biasanya dibakar begitu saja seusai dipanen," katanya.&lt;br /&gt;Yayan mengatakan, usaha tersebut sudah lebih dari dua tahun digelutinya. Dia mengaku tidak belajar dari siapapun saat pertama kali beralih ke porfesi ini. "Semuanya murni berkat pendalaman ide kreatif dari diri saya sendiri," katanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/385742950184948370-4689690516551377048?l=sangjurnalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/feeds/4689690516551377048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=385742950184948370&amp;postID=4689690516551377048' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/4689690516551377048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/4689690516551377048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/2009/10/mengais-rezeki-dari-limbah-daun-jagung.html' title='Mengais Rezeki Dari Limbah Daun Jagung'/><author><name>Kemal Permana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL1x_xKduDI/AAAAAAAAAEU/AJYA9SyJXVk/S220/Stand+alone..11.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/StzE39VlK4I/AAAAAAAAAUA/QlcuTQIbRNA/s72-c/Yayan+dan+Bunga+Hiasnya_1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-385742950184948370.post-779249313511250771</id><published>2009-10-18T00:32:00.001+07:00</published><updated>2009-10-18T00:34:57.071+07:00</updated><title type='text'>Si Tutul Lengkapi Koleksi Taman Satwa Cikembulan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/StoALctoqSI/AAAAAAAAATw/Z3z80rnTtgA/s1600-h/Macan+Tutul+Cikembulan.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 254px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/StoALctoqSI/AAAAAAAAATw/Z3z80rnTtgA/s320/Macan+Tutul+Cikembulan.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393623700415752482" /&gt;&lt;/a&gt; TAMAN SATWA Cikembulan, Kabupaten Garut kembali menambah koleksi hewan konservasi berupa macan tutul dewasa yang didatangkan dari Kesatuan Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah III Ciamis.&lt;br /&gt;Macan tutul yang dalam istilah latinnya dikenal dengan nama Panthera Pardus ini didatangkan dari KSDA Ciamis pada Senin (12/10) sekitar pukul 22.30. Ditemui Tribun di lokasi taman satwa di Kampung Jati Desa Cikembulan Kecamatan Kadungora, Kepala Pengelola Taman Satwa Cikembulan Rudi Arifin, Selasa (13/10) mengatakan, macan tutul tersebut merupakan hasil sitaan KSDA Ciamis setelah sehari sebelumnya ditangkap warga Desa Cikupa, Kabupaten Ciamis di wilayah Gunung Sawal. Di wilayah tersebut, kata Rudi, macan tutul dan beberapa jenis hewan buas lainnya memang masih bisa ditemukan berkeliaran di alam bebas. "Bahkan warga bisa menangkap binatang buas dengan leluasa di sana. Macan tutul ini pun didapat dengan cara diburu warga setelah sebelumnya dipancing dengan sebuah perangkap," terang Rudi.&lt;br /&gt;Rudi Arifin yang kemarin mendampingi Kepala Seksi KSDA Seksi Konservasi Wilayah V Garut, Teguh Setiawan S Hut MNatResSt  menuturkan, macan tutul tersebut tiba di Taman Satwa Cikembulan pada Senin malam sekitar pukul 22.30 setelah melalui proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dari KSDA Wilayah III Ciamis yang ditandatangani Kepala KSDA Wilayah III Ciamis, Pandji Yudistira KS dan Rudi Arifin sendiri selaku Kepala Pengelola Taman Satwa Cikembulan dengan disaksikan Kepala Seksi KSDA Seksi Konservasi Wilayah V Garut, Teguh Setiawan.&lt;br /&gt;Begitu tiba di Cikembulan pada Senin malam, kata Rudi, macan tutul tersebut langsung dimasukkan ke dalam kandang khusus berukuran kurang lebih 5 x 7 meter. Namun demikian, hingga siang kemarin, macan tutul yang memiliki berat kurang lebih 30 kilogram dengan panjang 1,5 meter itu belum diketahui usia dan jenis kelaminnya. Hal tersebut, menurut Rudi, karena proses pemeriksaan kesehatan, berat dan jenis kelamin macan tutul itu sedang menunggu proses dari Dinas Kesehatan setempat. "Sampai saat ini, kami masih menunggu proses pemeriksaan kesehatan beserta jenis kelaminnya," ujar Rudi.&lt;br /&gt;Dengan kehadiran mamalia jenis panther ini, maka semakin bertambah lengkaplah koleksi hewan-hewan konservasi yang dimiliki Taman Satwa Cikembulan. Saat ini, tutur Rudy, Taman Satwa Cikembulan baru dihuni 200 satwa dari empat kelas, yaitu aphes, primata, mamalia dan reftilia.&lt;br /&gt;Meski baru tiba sehari, kehadiran macan tutul yang kemarin terlihat masih beradaptasi dengan lingkungan barunya itu, cukup membuat para pengunjung terpesona. Apalagi bagi mereka yang baru melihat wujud macan tutul dalam kenyataan ang sebenarnya. Reny Ylulianingsih (22), seorang pengunjung asal Kampung Panawuan, Leles,  Garut mengatakan, dirinya sangat penasaran untuk melihat macan tutul dengan mata telanjang. Reny mengaku dirinya belum pernah melihat macan tutul dalam kenyataan yang sebenarnya.  "Saya belum pernah melihat macan tutul. Sasya baru duakali ke Taman Satwa Cikembulan dan baru sekarang mengetahui ada macan tutul di sini," ujarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/385742950184948370-779249313511250771?l=sangjurnalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/feeds/779249313511250771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=385742950184948370&amp;postID=779249313511250771' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/779249313511250771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/779249313511250771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/2009/10/si-tutul-lengkapi-koleksi-taman-satwa.html' title='Si Tutul Lengkapi Koleksi Taman Satwa Cikembulan'/><author><name>Kemal Permana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL1x_xKduDI/AAAAAAAAAEU/AJYA9SyJXVk/S220/Stand+alone..11.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/StoALctoqSI/AAAAAAAAATw/Z3z80rnTtgA/s72-c/Macan+Tutul+Cikembulan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-385742950184948370.post-6732773428514132020</id><published>2008-12-18T22:55:00.004+07:00</published><updated>2008-12-18T23:39:40.484+07:00</updated><title type='text'>Ketika Konsumen Dipojokkan (atau Dibodohi)</title><content type='html'>Kamis (18/12) sore, ruang pers room yang biasanya dijadikan sebagai ajang berkumpul kami, menjadi riuh rendah. Apa pasal? Ternyata pasalnya adalah sebuah kalimat yang membuat 'geli' kawan-kawan wartawan lain yang mereka baca di layar laptop ku. Aku sendiri cuma mesem-mesem.&lt;br /&gt;Dalam layar laptop ku tertulis sebuah judul "tolong bantu konumen yang ngamuk2" dari halaman sebuah web server pengisian isi ulang pulsa. Jadi apa yang temen-temenku tertawakan? Ya itu tadi kata-kata 'konsumen yang ngamuk2' itu. Jadi kesimpulannya kawan-kawanku menganggap aku ngamuk-ngamuk....hahahahaha...aku jadi ikut tertawa. &lt;br /&gt;Masalahnya bukan itu, bro! Aku coba jelasin kepada Abah ANTEVE, Indra TRANS TV, Gin Gin SINDO, Boi TPI dan Dedi RADAR tentang semua permasalahannya. Akhirnya mereka terdiam. Namun beberapa saat lamanya mereka berebut memberikan pendapat, seperti anak TK yang rebutan cemilan. Halahhh.....&lt;br /&gt;Namun dari "percekcokan" kami itu, akhirnya datang sebuah kesimpulan yang mengarah kepada posisiku yang seperti dipojokkan oleh kalimat tadi. Apalagi sebelumnya aku menerima sebuah email dari seseorang dari yang masih menjadi bagian dari web server itu, yang mengatakan aku seorang yang malas dan tidak punya waktu untuk membaca petunjuk.&lt;br /&gt;Walah...aku menyampaikan komplain kok malah dipojokkan? Demikian aku berkata setengah protes kepada kawan-kawanku sore itu. Malah dengan email yang aku baca dari seseorang itu aku merasa bukan saja dipojokkan melainkan juga dibodohi, karena ada kalimat yang mengatakan aku kurang pengetahuan dalam bisnis ini. Kembali teman-temanku tertawa. Puas sekali mereka kelihatannya.&lt;br /&gt;Aku jujur kepada mereka. Aku memang pernah 'menuding' kepada server tersebut bahwa mungkin saja aku telah tertipu dan uangnya raib entah kemana. Namun tudingan itu terlontar karena sebelumnya aku sama sekali tidak pernah bisa mengakses server itu. Dan seseorang ayng aku anggap upline juga 'hilang' dan tidak pernah kontak aku lagi.&lt;br /&gt;Apalagi sebelumnya aku juga pernah tertipu sekali oleh sebuah server yang lain. Dan yang ini kawan-kawan ku pun mengetahuinya.&lt;br /&gt;Namun alangkah baikanya jika apapun kritikan pedas dan keras dari seorang konsumen, tidak serta merta ditanggapi dengan " panas " pula oleh produsen. Alangkah lebih bijak kalau kita menanggapi keluhan konsumen dengan perkataan dan kalimat yang lebih mendinginkan suasana, bukan malah memojokkan apalagi membodohi dengan kata-kata yang kurang pantas dilontarkan. &lt;br /&gt;Lalu aku teringat dengan banyak tulisanku di koran yang terkadang mendapatkan kritikan pedas dari pembaca. Padahal faktanya jelas dengan dukungan bukti-bukti yang sangat kuat. Namun apakah lantas aku menanggapinya dengan pernyataan yang " panas " pula? Rasanya itu bukanlah suatu langkah bijak. Malah makin memperkeruh suasana. Meskipun sebenarnya aku bisa saja meng-kick balik mereka yang memprotes tulisanku. Toh meski aku sebagai penulis yang dibekali data dan fakta akurat, belum sepenuhnya benar di mata pembaca. Demikian pula pembaca yang memprotes keras kepadaku tidak sepenuhnya bersalah. Karena satu hal...ketidaktahuan mereka secara mendalam tentang apa yang aku tulis. Meski pun aku merasa yakin, seyakin-yakinnya bahwa apa yang aku tulis sepenuhnya jelas, mudah dimengerti dan independen. Namun tetap saja ada pembaca yang tidak mengerti bahkan mengkritk dengan nada-nada mengarah kepada ancaman. Lalu apa tugas ku menghadapi suasana seperti itu? Menenangkan hati mereka, yang notabene konsumen/pembaca, dengan pernyataan yang menentramkan dan mendinginkan suasana.&lt;br /&gt;Akhirnya senang juga aku bisa berbagi pikiran dengan kawan-kawan pers di kota lain  tentang hal ini dalam milis jurnalistik kami. Baik dan buruknya, semua ini jadi bahan renungan bagi kami semua. &lt;br /&gt;Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/385742950184948370-6732773428514132020?l=sangjurnalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/feeds/6732773428514132020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=385742950184948370&amp;postID=6732773428514132020' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/6732773428514132020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/6732773428514132020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/2008/12/ketika-konsumen-dipojokkan-atau.html' title='Ketika Konsumen Dipojokkan (atau Dibodohi)'/><author><name>Kemal Permana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL1x_xKduDI/AAAAAAAAAEU/AJYA9SyJXVk/S220/Stand+alone..11.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-385742950184948370.post-8758989984941069405</id><published>2008-12-18T13:36:00.002+07:00</published><updated>2008-12-18T13:44:56.092+07:00</updated><title type='text'>Polres Garut Ringkus 20 Anggota Sindikat Ranmor</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SUnw48V6a1I/AAAAAAAAALM/vAeJSHxCApI/s1600-h/curanmor-1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SUnw48V6a1I/AAAAAAAAALM/vAeJSHxCApI/s320/curanmor-1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281016899129994066" /&gt;&lt;/a&gt; Anggota Kepolisian Resor (Polres) Garut kembali mengungkap sindikat besar kednaraan bermotor (ranmor) yang selama ini selalu meresahkan warga Garut dan sekitarnya.&lt;br /&gt;Hanya dalam jangka waktu tiga minggu, jajaran Polres Garut telah berhasil mengungkap 30 kasus pencurian ranmor roda dua yang terjadi di wilayah hukum Polres Garut. Selain berhasil mengamankan 30 unit ranmor roda dua, Polres Garut juga telah meringkus 20 orang yang diduga sebagai pelaku ranmor dan penadah. &lt;br /&gt;Ditemui para wartawan di ruang kerjanya, Rabu (17/12), Kapolres Garut AKBP Drs Rusdi Hartono MSi didampingi Kasat Reskrim AKP Oon Suhendar SH menyebutkan, sejak akhir Bulan November hingga pertengahan Desember ini, pihaknya telah berhasil mengamankan sedikitnya 30 unit ranmor yang diduga kuat sebagai hasil pencurian. Selain itu, pihaknya juga telah mengamankan 20 orang tersangka yang terdiri dari 14 tersangka pelaku pencurian, serta 6 orang penadah.&lt;br /&gt;Menurut Rusdi, dari sekian banyak barang bukti dan tersangka yang sudah diamankan, paling banyak merupakan kasus ranmor yang TKP (tempat kejadian perkara)-nya  terjadi di wilayah perkotaan, yaitu Kecamatan Garut Kota dan Tarogong. "Namun meski TKP-nya paling banyak di Kecamatan Garut Kota dan Tarogong, barang bukti yang berhasil kita amankan, kebanyakan dari daerah Garut Selatan," ujar Rusdi. Disebutkannya, ranmor hasil curian dari daerah perkotaan, selama ini memang kebanyakan dijual ke daerah Garut Selatan. Pertimbangannya, menurut Rusdi, keberadaan ranmor hasil curian tersebut lebih aman "dilarikan" ke daerah selatan karena sulit untuk dilacak. "Pertimbangan lainnya, minat warga di daerah Garut Selatan sangat tinggi untuk bisa memiliki ranmor dengan harga yang miring. Maka tak heran kalau motor-motor hasil curian dari daerah perkotaan, kemudian "dilarikan" ke daerah selatan," imbuhnya.&lt;br /&gt;Hingga saat ini, masih menurut Rusdi, dari 20 tersangka yang telah berhasil diamankan,  pihaknya belum menemukan adanya indikasi keterlibatan komplotan ranmor dari luar wilayah Kabupaten Garut. Ke-20 orang pelaku dan penadah yang saat ini telah diamankan, semuanya merupakan warga Garut. "Keberadaan tiga puluh unit sepeda motor yang telah kami amankan saat ini, merupakan hasil curian mereka. Hal itu diakui para tersangka," tambahnya. Lebih jauh Rusdi mengungkapkan, pihaknya terus mengembangkan kasus ini sehingga besar kemungkinan jumlah tersangka maupun barang bukti masih akan terus bertambah."Esoklusa, tak menutup kemungkinan jumlah tersangka dan barang buktinya akan bertambah. Kita memang terus melakukan pengembangan terhadap kasus&lt;br /&gt;ini," katanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/385742950184948370-8758989984941069405?l=sangjurnalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/feeds/8758989984941069405/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=385742950184948370&amp;postID=8758989984941069405' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/8758989984941069405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/8758989984941069405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/2008/12/polres-garut-ringkus-20-anggota.html' title='Polres Garut Ringkus 20 Anggota Sindikat Ranmor'/><author><name>Kemal Permana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL1x_xKduDI/AAAAAAAAAEU/AJYA9SyJXVk/S220/Stand+alone..11.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SUnw48V6a1I/AAAAAAAAALM/vAeJSHxCApI/s72-c/curanmor-1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-385742950184948370.post-5474402850411099649</id><published>2008-11-12T09:12:00.005+07:00</published><updated>2008-11-21T15:58:01.817+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SRpBOquQEDI/AAAAAAAAAHY/XULcz_VAR54/s1600-h/Longsor+Barusuda_2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 167px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SRpBOquQEDI/AAAAAAAAAHY/XULcz_VAR54/s320/Longsor+Barusuda_2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267594434405470258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 255);font-family:webdings;font-size:180%;"  &gt;Warga Tujuh  Desa Terus Mengungsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan warga Bungbulang panik menyusul tingginya curah hujan di wilayah tersebut dalam sepekan terakhir. Pasalnya, setiap hujan deras turun, mereka langsung berkemas membawa barang-barang seadanya dan berjalan menuruni perbukitan menuju rumah kerabat atau tetangga terdekat yang lebih aman. Ribuan warga ini berasal dari tujuh desa di Kecamatan Bungbulang masing-masing  Desa Mekarjaya, Bojong, Tegallega, Wangunjaya, Gunamekar, Mekarbakti, dan Gunungjampang.&lt;br /&gt;Seperti diungkapkan  Camat Bungbulang, Aah Anwar Saefullah, Selasa (4/11),  ketujuh desa tersebut merupakan daerah yang paling rawan dilanda longsor karena lokasinya yang berada di atas perbukitan. Selain longsor, kata dia, warga di sana juga terancam tanah ambles. "Sampai saat ini, warga di tujuh desa masih terus mengungsi ke tempat yang lebih aman karena hujan terus mengguyur wilayah Bungbulang. Mereka khawatir tertimpa tanah longsor dan tanah ambles, setiap langit mendung, warga langsung was was. Begitu hujan turun, mereka langsung menuruni bukit dan pergi ke rumah saudara atau tetangganya yang dekat," kata Aah.&lt;br /&gt;Aah mengatakan, daerah terparah yang mengalami keretakan tanah berada di Desa Wangunjaya dan Mekarjaya. Keretakan tanah di dua desa tersebut, lanjutnya, mencapai panjang 300 meter dengan lebar retakan mencapai 20 Cm. Di dua desa tersebut, enam rumah warga mengalami kerusakan cukup parah sehingga terpaksa para penghuninya direlokasi ke rumah saudaranya yang tidak terlewati tanah retak. "Untuk warga yang rumahnya rusak dan tak bisa dihuni lagi, kami masih mencari lokasi yang cocok. Saat ini, kami masih terus menunggu bantuan logistik dari Pemkab  Garut terutama bahan bangunan untuk memindahkan rumah warga. Saat ini, sudah banyak warga yang tak mempunyai tempat tinggal lagi akibat rusak terkena longsor. Untuk kembali pulang ke rumah, mereka juga tidak berani karena kondisi tanah masih labil," terangnya.&lt;br /&gt;Kecamatan Bungbulang berada di perbukitan. Sehingga, kata Aah, seluruh rumah yang berada di kecamatan tersebut sangat rawan terkena bencana longsor. Jarak dari Garut Kota menuju Kecamatan Bungbulang sendiri mencapai 80 Km dengan kondisi jalan yang berbelok-belok.  "Setiap tahun, Kecamatan Bungbulang memang kerap dilanda longsor setiap musim hujan tiba," ujarnya. (set)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Longsor Sapu Kolam milik Keluarga Diki Chandra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain di Bungbulang, banjir bandang dan longsor mengancam Ratusan warga di kampung Barusuda RT  01/06 Desa Barusuda Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut.  Ancaman ini terjadi menyusul jebolnya  tanggul penahan sungai Cisurian yang mengalir melalui kampung tersebut.&lt;br /&gt;Jebolnya tanggul penahan sungai yang mengairi lima desa yakni desa Desa Barusuda, Cigedug,  Sukahurip, Cintanagara dan Desa Sindagsari ini terjadi menyusul longsor yang terjadi di sekitar wilayah  tanggul dan parit sungai pada Selasa (4/11) dinihari sekitar pukul 04.00.&lt;br /&gt;Menurut penuturan Lurah Barusuda, Farid Zarwan, longsor yang mengakibatkan jebolnya tanggul  penahan aliran sungai yang berasal dari Cikurai ini terjadi setelah kawasan tersebut diguyur hujan selama  tiga hari secara terus menerus. Akibatnya, terang Farid, selain mengakibatkan tanggul sungai jebol, aliran  juga menyapu kolam ikan warga milik H Doyot (alm) yang merupakan eyang calon wakil bupati garut Diki  Chandra. "Tidak hanya itu saja, akibat jebolnya tanggul itu, puluhan rumah di sekitar bantaran sungai  terancam terendam jika hujan besar datang. Bahkan efeknya bisa menjalar ke ratusan rumah warga  lainnya jika tanggul sungai tidak segera diperbaiki," ujar Farid.&lt;br /&gt;Berdasarkan pantauan Tribun, hingga kemarin siang, warga Kampung Barusuda masih berusaha  memperbaiki tanggul sungai dan bekas longsoran dengan peralatan seadanya. Dari pantauan terlihat jika  hingga siang kemarin warga masing mengumpulkan ratusan karung untuk dijadikan sebagai tanggul  penahan sementara. Menurut Farid, jumlah karung yang dibutuhkan untuk menahan tanggul yang jebol  sepanjang kurang lebih 50 meter itu adalah sebanyak 2000 karung. "Namun hingga siang ini (kemarin  siang, Red), kami baru mampu mengumpulkan 150 karusng saja," kata Farid.&lt;br /&gt;Jika tanggul yang jebol itu tidak segera diperbaiki, terang Farid yang kemarin mendampingi Kabag  Humas Dik Dik Hendrajaya yang ikut memantau perkembangan di lapangan, maka dikhawatirkan  bencana lebih besar akan menimpa sebanyak 130 kepala keluarga (KK) atau lebih dari 500 jiwa warga  kampung tersebut. Sebab jika hujan yang lebih besar datang, kata Farid, dipastikan aliran sungai Cisurian  akan membesar dan akan meluap ke perkampungan warga sehingga mengancam keberadaan warga yang  kemarin masih dihinggapi rasa was-was.&lt;br /&gt;Sebagai langkah preventif sementara ini, menurut Farid, warga dihimbau untuk segera bersiap-siap siaga  penuh jika hujan datang terutama jika hujan yang turun berskala besar dan lama. "Memang utnuk  sementara langkah seperti itu yang kami lakukan saat ini. Mudah-mudahan dalam waktu dekat tidak  turun hujan lebat dan panjang agar kami mempunyai kesempatan memperbaiki saluran air dan tanggul  yang rusak," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akses Jalan terancam Putus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan yang terjadi tiga hari beruturt-turut di Kampung Barusuda, tidak saja membuat tanggul  sungaiCisurian jebol dan longsor, namun juga mengakibatkan  sebuah jembatan utama kampung tersebut  terancam putus.&lt;br /&gt;Menurut Farid Zarwan, jika hujan turun dengan lebat, dikhawatirkan akan turut memutuskan jembatan  Cibitung yang menghubungkan Kecamatan Cigedug dengan Kecamatan Cikajang. Seperti dari pantauan  kemarin, sebagian tanggul di jembatan itu juga ikut tergerus air sungai Cissurian yang kemarin jebol,  meskipun jarak tanggul yang jebol dengan jembatan tersebut terpaut cukup jauh sekitar 2 kilometer.&lt;br /&gt;Dipastikan jika jembatan itu sampai rusak atau ikut tergerus longsor, maka dipastikan akses warga dari  Kecamatan Cigedug dengan Kecamatan Cikajang akan terputus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/385742950184948370-5474402850411099649?l=sangjurnalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/feeds/5474402850411099649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=385742950184948370&amp;postID=5474402850411099649' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/5474402850411099649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/5474402850411099649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/2008/11/warga-tujuh-desa-kecamatan-bungbulang.html' title=''/><author><name>Kemal Permana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL1x_xKduDI/AAAAAAAAAEU/AJYA9SyJXVk/S220/Stand+alone..11.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SRpBOquQEDI/AAAAAAAAAHY/XULcz_VAR54/s72-c/Longsor+Barusuda_2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-385742950184948370.post-7696490369939630444</id><published>2008-09-10T21:27:00.009+07:00</published><updated>2008-09-12T19:55:57.418+07:00</updated><title type='text'>KA Anjlok Itu...Menyisakan Cerita  Duka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SMfsMOp0glI/AAAAAAAAAFk/7MTL2iLf1A4/s1600-h/Kereta+Anjlok_21.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SMfsMOp0glI/AAAAAAAAAFk/7MTL2iLf1A4/s320/Kereta+Anjlok_21.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244419985932321362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari itu Sabtu (6/9) pagi. Kami berempat, Aku, Abah Janur ANTV, Boi TPI dan Dedi Radar Tasikmalaya, bergegas menuju markas Polwil Priangan dengan menggunakan mobil Dedi. Di sana, kami menemui Dikyasa AKP Sumilan di ruang kerjanya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 09.30.&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian Tasdik, dari detik.com, bergabung bersama kami di ruang kerja Sumilan. Berdasarkan kesepakatan bersama, hari itu kami bersama jajaran Polwil merencanakan untuk melakukan sidak ke kawasan Lingkar Nagreg, jelang mudik lebaran 1429 H atau 1 Oktober 2008 ini.&lt;br /&gt;Berdasarkan kesepakatan juga, kami kompak untuk pergi bersama AKP Sumilan dengan menggunakan mobil dinas lantas jenis Ford,  sehingga kami meninggalkan kendaraan di Mapolwil.&lt;br /&gt;Selama dalam perjalanan Abah Janur ANTV tak henti-hentinya bertanya kepada Sumilan mengenai segala hal yang berbau teknis di dalam mobil dinas lantas itu. Abah bahkan mencoba menajdi 'operator' dengan belajar memencet tombol-tombol sirene dan klakson mobil yang berbunyi khas milik polisi. Selama itu pula kami tertawa-tawa menyaksikan tingkah laku Abah yang seperti anak kecil mendapatkan mainan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Hahahaha...aing puas bales dendam,"&lt;/span&gt; ujar Abah. Bales dendam apa? Mmmm.....tanya aja ke Abah soal itu mah.&lt;br /&gt;Di Cagak Nagreg, kami tiba sekitar pukul 10.45. Di sana kami bertemu dengan Kasubag Lantas Polwil Priangan Kompol Abdul Alex yang sedang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'beberesih'&lt;/span&gt; dan beres-beres  ruangan yang  bakal jadi pos aju utama Polwil Priangan selama musim mudik.&lt;br /&gt;Tadinya kami berlima masih sabar untuk menunggu anggota jajaran Polda dan Polwil  yang akan sidak hari itu ke wilayah Lingkar Nagreg. Namun tiba-tiba &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tutt...tutt...&lt;/span&gt;berdering bunyi pesan singkat (SMS) ke ponsel kami semua. Isinya: Kereta Anjlok di wilayah antara St Bumi Waluya- St Cipeundeuy, Malangbong!&lt;br /&gt;Saat itu kami pun bergegas meminta Sumilan mengantar kami ke Malangbong. Nahas...saat itu pula Kompol Alex meminjam mobil 'angkutan' kami dengan alasan akan menghadiri rapat di Nagreg. Walhasil..kami terpaksa liputan dengan menggunakan kendaraan umum. Ada dua pilihan: Naik bus atau Elf. Yang terakhir ini, sebenarnya aku paling takut sebab sopir elf dikenal sangat ugal-ugalan. Namun yang terpenting dan terutama adalah aku tidak pernah naik dan tidak pernah mau naik elf!!&lt;br /&gt;Tapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;upss&lt;/span&gt;...Boi TPI bersikeras menghentikan elf yang lewat. Menurut dia dengan anik elf akan lebih cepat. Terpaksa juga aku naik bersama mereka.  Tujuannya bukan ke Malangbong dulu, melainkan ke Polsek Limbangan karena Abah Janur sudah berjanji dengan Kapolsek Limbangan untuk bertemu di Mapolsek dan meminta bantuannya mengantar kami ke tempat kejadian perkara (TKP).&lt;br /&gt;Seperempat jam kemudian, kami tiba di Polsek Limbangan.  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Eh sial&lt;/span&gt;, ternyata Kapolsek tidak ada di tempat. Menurut anggota di sana, dia sudah pergi duluan. Entah kemana! Akhirnya dengan berat hati dan lelah, karena sedang melaksanakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shaum&lt;/span&gt; dan siang terik panas pula (saat itu pukul 12.00) kami terpaksa harus naik elf lagi ke TKP.&lt;br /&gt;Singkat kata, kami pun naik elf lagi ke TKP.  Selama kurang lebih 20 menit kami berusaha mencari lokasi TKP dari elf itu. Beruntung ada seorang penumpang memberitahu lokasi Bumi Waluya, sehingga kami memiliki sedikit gambaran akan turun dimana.&lt;br /&gt;Tiba-tiba..Boi berteriak. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Itu kareta na...eureun di dieu mal..kiri..kiri..."&lt;/span&gt; serunya. Aku pun langsung meminta sopir menepi. Kiri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mang...!&lt;/span&gt; Singkat kata kami turun di sana. Dari lokasi kami berhenti, dari atas tebing terlihat samar-samar ada kereta yang sedang berhenti. "Itu pasti keretanya," teriak Boi dan Abah Janur.&lt;br /&gt;Dari sana kami menaikki tebing. Kami mencari jalan pintas untuk bisa sampai ke TKP. Tidak kurang dari 10 menit  akhirnya kami pun berhasil mencapai lokasi St Bumi Waluya. Namun di sana kami hanya melihat kereta yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'diparkir'&lt;/span&gt; di depan stasiun. "Kereta yang anjlok &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mah&lt;/span&gt; bukan disini, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cep&lt;/span&gt;, tapi di sana. Masih jauh dari sini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mah&lt;/span&gt;," tutur seorang ibu yang kebetulan kami temui di sekitar stasiun itu.&lt;br /&gt;Meski tubuh sudah terasa lelah, kami meneruskan perjalanan ke stasiun Bumi waluya. Disana kami melihat dua gerbong kereta teronggok. Berdasarkan keterangan petugas, kami disarankan untuk berangkat lagi ke jalur pertengahan stasiun itu dengan stasiun Cipeundeuy. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wah....harus jalan lagi kalau begitu&lt;/span&gt;, gerutu kami.&lt;br /&gt;Tiba-tiba secara kebetulan, saat itu melintas kereta&lt;span style="font-style: italic;"&gt; crane&lt;/span&gt; (semacam kereta teknisi yang membawa peralatan perbaikan KA, seperti dongkrak hidrolik dan lain sebagainya). Tanpa banyak cerita kami berlima langsung naik ke atas gerbong craine itu dan pergi menuju lokasi yang berjarak kurang lebih 2 km dari sana.&lt;br /&gt;Singkat kata kami pun tiba di TKP. Disana memang terlihat satu gerbong nomor satu kereta Argo Wilis jurusan Bandung-Surabaya itu sedang teronggok. Dua roda as &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nya&lt;/span&gt; terlihat keluar jalur, sementara beberapa bantalan rel kereta terlihat hancur tergerus asgerbong yang terbuat dari baja.&lt;br /&gt;Singkat kata selesai liputan dari sana, kami langsung pulang menuju kantor Humas Garut. Ternyata dari sana, kami harus berjalan lagi kurang lebih sepanjang 1 KM karena jarak TKP dengan jalan raya terletak cukup jauh.  Meski tubuh sudah sangat lelah, terik pula, kami terpaksa harus menjalani itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya..inilah tugas negara&lt;/span&gt;. Demikian aku bergurau.&lt;br /&gt;Setelah menuruni bukit, kami kemudian pulang dengan menggunakan elf lagi. Dari sana kamin berhenti di terminal Malangbong untuk seterusnya ganti kendaraan menggunakan angkot ke kantor Humas yang berjarak kurang lebih 30 KM.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Duhh&lt;/span&gt;, liputan di bulan Ramadan kali ini memang banyak tantangannya. Namun demikian, kami sepakat jika dijalani dengan kesungguhan dan keikhlasan beribadah, semua ini kami anggap sebagai cobaan sejauh mana kami mampu menahan hawa nafsu, lapar dan dahaga, sebagaimana yang dirasakan oleh mereka yang fakir dan miskin sehari-harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;garut, 12 septermber 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;20.56  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/385742950184948370-7696490369939630444?l=sangjurnalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/feeds/7696490369939630444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=385742950184948370&amp;postID=7696490369939630444' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/7696490369939630444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/7696490369939630444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/2008/09/ka-anjlok-itumenyisakan-cerita-duka.html' title='KA Anjlok Itu...Menyisakan Cerita  Duka'/><author><name>Kemal Permana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL1x_xKduDI/AAAAAAAAAEU/AJYA9SyJXVk/S220/Stand+alone..11.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SMfsMOp0glI/AAAAAAAAAFk/7MTL2iLf1A4/s72-c/Kereta+Anjlok_21.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-385742950184948370.post-3672963121303588734</id><published>2008-09-04T17:16:00.005+07:00</published><updated>2008-09-04T17:57:06.647+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL-9I74nu7I/AAAAAAAAAFc/sfpGS0bPYeE/s1600-h/one_1.JPG"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL-9I74nu7I/AAAAAAAAAFc/sfpGS0bPYeE/s320/one_1.JPG" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL-9I74nu7I/AAAAAAAAAFc/sfpGS0bPYeE/s320/one_1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242116452494326706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 204, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Antara Kursi Dan Mitan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Bingung! Itulah kesan pertama kulihat ekspresi Dedi Hermawan, teman seperjuanganku di lapangan saat membaca naskahku yang berjudul 'Kursi pun Jadi Kayu Bakar'. Seperti yang terlihat dalam foto di samping tulisan ini, si brewok yang kerap dipanggil 'Barep' oleh Gin Gin dan terkadang juga di panggil Bang One ini memang terlihat bingung. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kesannya teh kerang kerung teu puguh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Si One ini bukannya membaca naskah ku selanjutnya, melainkan hanya mengutak-ngatik tulisan 'kursi' dengan 'minyak tanah' (mitan). entah apa maksudnya. Aku dan Gin Gin hanya memperhatikan dia saja tanpa berani mengganggu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Namun satu jam kemudian, keadaan jadi terbalik. Kini aku dan Gin Gin yang berbalik bingung. Bagaimana tidak bingung   sebab aku melihat si One masih saja mengutak-ngatik kata 'kursi' dengan 'mitan'.  Sementara naskah yang dia buat belum juga selesai. Tiba-tiba si One bertanya. "Jadi naon hubunganna korsi jeung minyak tanah (jadi apa hubungannya kursi dengan minyak tanah)," tanya tanpa memalingkan muka dari depan monitor komputer.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Aku dan Gin Gin hanya bisa tertawa terbahak-bahak karena sedari tadi si One masih saja berkutat di masalah seputar hubungan kursi dan mitan. Sementara naskah di bawahnya masih saja belum di otak-atik. Utuh!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Dengan sedikit bercanda aku mecnoba menjelaskan bahwa akibat kelangkaan minyak di Garut menyebabkan seorang warga terpaksa mengorbankan sebuah kursi di rumahnya untuk dijadikan kayu bakar untuk memasak nasi dan lauk pauk. Hal itu disebabkan karena warga itu tidak mampu membeli mitan yang harganya selangit tembus dan langka di Garut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Setelah itu, aku mencoba melihat ekspresi wajah One. Masih bingung. Lalu akhirnya keluar kata pamungkas dari dia yang membuat aku dan Gin Gin semakin terbahak. "Ah can ngarti atuh naon hubungan na korsi jeung mitan (ah saya masih belum ngerti apa hubungannya kursi dengan mitan)," katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;garut,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;kamis, 4 september 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;17:30&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/385742950184948370-3672963121303588734?l=sangjurnalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/feeds/3672963121303588734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=385742950184948370&amp;postID=3672963121303588734' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/3672963121303588734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/3672963121303588734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/2008/09/antara-kursi-dan-mitan-bingung-itulah.html' title=''/><author><name>Kemal Permana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL1x_xKduDI/AAAAAAAAAEU/AJYA9SyJXVk/S220/Stand+alone..11.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL-9I74nu7I/AAAAAAAAAFc/sfpGS0bPYeE/s72-c/one_1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-385742950184948370.post-8788242696360844774</id><published>2008-08-29T07:29:00.000+07:00</published><updated>2008-08-29T07:47:23.228+07:00</updated><title type='text'>Jadi Burung Bukan Impian Lagi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SLdF7wRIugI/AAAAAAAAAC0/ouK_KJW1g1Y/s1600-h/Paralayang.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SLdF7wRIugI/AAAAAAAAAC0/ouK_KJW1g1Y/s320/Paralayang.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239733584340236802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Suasana lapang sepak bola Kecamatan Cibiuk Garut Jawa Barat, mendadak ramai di kunjungi warga masyarakat dan murid sekolah, Sabtu (16/8). Kehadiran warga dan anak sekolah saat itu bukanlah untuk menyaksikan pertandingan sepakbola, melainkan untuk menyaksikan  puluhan 'payung terbang' yang  dikendalikan manusia yang beterbangan di atas langit di lapangan yang berbatasan langsung dengan gunung  Haruman itu.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Puluhan pasang mata, terutama anak-anak, tak henti-hentinya mendecakkan kagum. Terlihat jelas, pesona mata mereka seolah tiada habis menyaksikan para peserta paralayang yang Sabtu kemarin turut menyemarakkan gelaran Dirgantara Paragliding Haruman sebagai bagian HUT RI Ke-63 dan Visit Indonesia/Jabar 2008, yang satu persatu beterbangan dari gunung Haruman dan mendarat tepat di lapang kecamatana Cibuk.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebelum terbang, puluhan peserta dari lima negara yaitu Indonesia, Austria, Jerman, Rusia dan India satu persatu  naik ke kaki gunung Haruman dengan menggunakan mobil land rover atau motor trail yang sudah disediakan panitia penyelenggara. Hal ini dikarenakan medan pegunungan Haruman yang lumaya terjal dan tidak bisa dilalui kendaraan biasa. Setelah berada di pos penerbangan, yang tingginya kurang lebih 500 meter di atas permukaan tanah/lapangan, para peserta satu persatu mempersiapkan diri maisng-masing sesuai nomor urut terbang.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Saat namanya dipanggil, peserta pun langsung siap-siap. Setelah berlari sejenak untuk mengambil ancang-ancang agar parasut (wing)-nya naik, lalu....happp...peserta pun terbang seketika.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di udara, peserta biasanya melayang dengan mencari arah angin yang tepat. Saat memperoleh angin, maka mereka pun akan memainkan pedal (kendali) yang berada dalam pegangan di kiri kanan tangan mereka. Biasanya dalam even resmi seperti ini, para peserta ditarget dengan ketepatan waktu mendarat. Maka oleh sebab itulah, para peserta tidak serta merta mengarahkan payung mereka ke daratan, melainkan berputar-putar dulu sejenak, untuk kemudian setelah drasakan cukup waktu melakukan pendaratan, maka mereka pun mengayuhkan tangan mereka ke arah perasut agar segera mendarat d titik yang ditentukan panitia.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Seorang peserta pertama asal Jakarta adalah peserta wanita dalam ajang ini. Meski bukan satu-satunya, namun kelihaian peserta bernama Susi Melinda (40) ini mendapat acungan jempol banyak penonton yang kemarin berjubel memenuhi lapangan Cibiuk. Apalagi saat Susi mendaratkan kakinya, riuh rendah tepukan penonton pun langsung terdengar.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Diperlukan latihan keras untuk bisa menjadi seorang paraglider. Menurut Susi jika latihan keras, maka hanya perlu waktu seminggu untuk sekadar bisa mengendalikan pedal yang terletak di tangan kanan dan kiri.       &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Latihan awal dlakukan di atas tebing berketinggian rendah. Menurut Susi awalnya dia terbang di atas tebing berketinggian 20 meter. Sehari kemudian dia beralih ke tebing berketinggian 30 meter. "Demikian seterusnya, hingga kita benar-benar mahir mengendalikan angin dan pedal," katanya.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Susi menjelaskan, untuk menjadi seorang paraglider dibutuhkan biaya yang relatif mahal. Biasanya harga satu set parasut paralayang berharga sekitar rp 30-60 juta rupiah. Itu pun biasanya hanya dipakai oleh para atlet pemula. "Ada juga harga second (bekas, Red) paling sekitar Rp 15-20 jutaan," katanya.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sati set perlengkapan paralayang terdiri dari payung atau arasut atau biasa juga disebut wing (blider), harnes atau tempat duduk yang bentuknya seperti tas punggung besar, payung cadangan, serta karadines (pengait). "Berat satu set perlengkapan bisa mencapai 20 kilogram," tuturnya.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Peserta wanita dalam even ini bukan saja Susi Melinda. Terdapat juga seorang peserta wanita cilik berusia 12 tahun. Namanya Rezkita. Rezkita adalah seorang siswi kelas 2 SMPN 2 Bandung. Dia mengaku baru setahun mendalami olahraga paralayang. Namun demikian, jam terbangnya sudah lumayan banyak. "Dari tahun kemarin hingga saat ini sudah 60 kali lebih terbang," tutur Rezkita.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Saat ditanya ketertarikannya mendalami olahraga terbang layang ini, Rezkita mengaku dirinya suka dengan tantangan apalagi dengan tantangan terbang seperti olahraga paralayang ini. "Karena itulah saya tertarik mempelajarinya," tutur siswi kelahiran 20 November 1995 ini.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ketertarikan Rezkita pun pada awalnya lebih karena dia melihat keasyikan kaknya, Pandu (18) yang juga seorang paragglider. Menurutnya, dia tertarik dengan kisah-kisah kakanya yang bercerita keasyikan terbang seperti burung di udara.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dan  kini, Rezkita memiliki obsesi ke depan yakni ingin bisa turut andil dalam gelaran Pekan Olahraga Nasional. Menurut pengakuannya, dirinya sangat ikut turut andil menjadi bagian dari warga Jabar untuk menyuumbangkan medali pada gelaran PON jika dirinya diberikan kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/385742950184948370-8788242696360844774?l=sangjurnalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/feeds/8788242696360844774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=385742950184948370&amp;postID=8788242696360844774' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/8788242696360844774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/8788242696360844774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/2008/08/jadi-burung-bukan-impian-lagi.html' title='Jadi Burung Bukan Impian Lagi'/><author><name>Kemal Permana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL1x_xKduDI/AAAAAAAAAEU/AJYA9SyJXVk/S220/Stand+alone..11.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SLdF7wRIugI/AAAAAAAAAC0/ouK_KJW1g1Y/s72-c/Paralayang.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-385742950184948370.post-421458925340029811</id><published>2008-08-19T12:19:00.000+07:00</published><updated>2008-08-20T12:34:10.817+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/385742950184948370-421458925340029811?l=sangjurnalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/feeds/421458925340029811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=385742950184948370&amp;postID=421458925340029811' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/421458925340029811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/421458925340029811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/2008/08/blog-post.html' title=''/><author><name>Kemal Permana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL1x_xKduDI/AAAAAAAAAEU/AJYA9SyJXVk/S220/Stand+alone..11.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-385742950184948370.post-8229230925932552215</id><published>2008-08-14T20:17:00.000+07:00</published><updated>2008-08-14T21:19:41.934+07:00</updated><title type='text'>Kisah Misteri Di Sebuah Perkebunan Kol</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SKQ-3HPOgXI/AAAAAAAAACU/e53tUAixFng/s1600-h/Horor.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SKQ-3HPOgXI/AAAAAAAAACU/e53tUAixFng/s320/Horor.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234377783467999602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;             &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-indent: 0cm; color: rgb(51, 204, 0); text-align: justify;"&gt;Ruangan Humas Pemkab Garut di Jalan Pahlawan mendadak ramai Selasa (12/8) sore. Cerita ku saat meliput di Desa Sarimukti, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut bersama Boi (TPI) menjadi bahan perbincangan serius antarsesama wartawan. Sore itu, aku memperlihatkan hasil jepretan foto dari kamera ku sendiri saat berada di sebuah perkebunan kol. Sekilas tak ada yang aneh dalam foto tersebut. Di sana terlihat aku sedang berpose dengan latar belakang hamparan kebun kol. Namun, empat jari kecil tiba-tiba terlihat muncul di belakang kepala ku. Awalnya, aku mengira jari tersebut milik Boi yang sama-sama berada di perkebunan kol. Namun saat aku menanyakan hasil fotonya kepada Boi, wartawan TPI itu mengelak. Kontan saja, Boi yang langsung ketakutan dan aku meninggalkan lokasi perkebunan tersebut. "Jadi muringkak bulu punduk yeuh, Mal" tutur Boi yang kala itu baru saja selesai mengambil feature sekolah gratis di desa itu.&lt;br /&gt;Tadinya aku pikir itu jari Boi yang jahil. Karena biasanya, dia mah suka jahil kalau lihat orang difoto. Ternyata, Boi mengelak dan malah langsung mengajak aku pergi. Akal sehat ku pun berputar keras. Kalau pun memang Boi yang sengaja jahil, pikir ku, sungguh tidak mungkin. Sebab, posisi Boi berada cukup jauh dari tempat dia berdiri atau berjarak sekitar 3 meter. Selain itu, Boi pun saat itu sedang duduk di atas motor sambil mengambil gambar suasana perkebunan kol. Saking gugupnya, Boi lupa menyalakan stater sepeda motornya saat bermaksud pergi jauh dari perkebunan tersebut. Aku mah gak takut. Si Boi yang tiba-tiba ngajak pergi, sampai lupa menyalakan stater motor.&lt;br /&gt;Akhirnya diskusi pun menghangat. Beberapa wartawan mengaku tidak percaya dengan cerita ku dan bersikukuh menyangka jari itu milik Boi. Namun, aku yang mengalami sendiri pengalaman tersebut tetap ngotot dengan pendirian ku. Memang itu tidak mungkin itu jari Boi. Jarak dia dengan ku cukup jauh, dan saat itu, Boi juga sedang sibuk mengambil gambar suasana perkebunan.&lt;br /&gt;Mang Anang dari Priangan menyambar pernyataan ku dan meminta aku merekonstruksi kejadian yang dialami tadi. "Secara logika pun tidak mungkin jari Boi sampai ke belakang kepala ku. Jaraknya juga jauh. "Jadi ente keukeuh itu foto hantu?" tanya Aep. " Tidak tahu, tapi kejadiannya jelas seperti itu," kata ku. Abah Janur Antv ikut urun rembug. Ia mengambil kamera ku dan meneliti hasil foto tersebut. "Wah mang, bener ieu mah jurig. Kameranya harus buru-buru dilepas. Sok ku Abah dibeuli Rp200 ribu. Daripada nanti ikut ke Bandung," ujar Abah sambil memperhatikan dengan seksama foto ku bersama penampakannya itu. "Kalau tidak, mending sekarang mere kifarat untuk 10 orang miskin. Cukup we Rp1.000 saurang," Abah terus memberikan usul gilanya. Mang Anang yang juga dikenal jahil, menimpali omongan Abah. Menurut Mang Anang, keanehan seperti itu memang kerap terjadi di Kecamatan Pasirwangi. "Biasanya, penampakan itu ikut. Makanya, ini mah hanya saran, jangan pulang ke Bandung malam-malam. Bayangkan saat melintas di Leuweung Tiis," ujar Mang Anang. Entah lah percaya atau tidak dengan semua pembicaraan itu, yang jelas saat itu aku hanya tersenyum sambil meneruskan pekerjaannya menulis berita.&lt;br /&gt;Selama aku mengetik berita, semua wartawan yang ada di ruang humas tak henti-hentinya menasihati ku agar tidak menganggap main-main peristiwa tersebut. Abah tetap keukeuh dengan keinginannya agar aku segera menjual kamera tersebut dan dia siap menampungnya. Usul Mang Anang lain lagi. Ia meminta aku mencetak hasil foto tersebut dan memeriksanya. "Kalau hasilnya tetap sama, berarti itu bukan penampakan. Tapi kalau sudah dicetak hasilnya berbeda dan bayangan jari tersebut tidak ada, berarti foto itu memang ada penampakkannya," ujar Mang Anang. Aku sendiri bergeming dan tidak menanggapi usulan teman-temannya. Aku sih tetap asyik mengetik berita karena jam deadline sudah semakin dekat. "Jadi Mal, setan mah tidak kenal orang. Mau itu penyuka beattles atau penyuka dangdut. Geus datang mah, datang we," seloroh Abah Janur. Begitulah, sore itu perbincangan soal foto hasil jepretan foto ku terus bergulir.&lt;br /&gt;Menjelang malam ruang humas mulai sepi. Tinggal aku, Abah Janur, Inul Galamedia, Indra Trans TV, Ukas Reks Radio, dan Gin Gin yang masih bertahan. Inul yang penasaran, memperhatikan foto itu dari komputer dengan seksama. Ia berpikir keras menganalisa jari yang muncul di belakang kepala Kemal dalam foto tersebut. "Kemungkinan sosok itu muncul dan berdiri membelakangi Kemal persis saat Kemal mengambil foto," kata Inul. Aku mengiyakan kesimpulan Inul sambil dan membayangkan kemunculan sosok itu bawah tebing. "Kemungkinan, sosok itu muncul membelakangi Kemal sambil mengangkat kedua tangannya. Cuma yang terekam hanya sebagian," aku menimpali. Ah, percaya atau tidak, lihat saja sendiri foto jari tangan yang muncul di belakang kepala ku.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/385742950184948370-8229230925932552215?l=sangjurnalis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/feeds/8229230925932552215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=385742950184948370&amp;postID=8229230925932552215' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/8229230925932552215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/385742950184948370/posts/default/8229230925932552215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sangjurnalis.blogspot.com/2008/08/kisah-misteri-di-sebuah-perkebunan-kol.html' title='Kisah Misteri Di Sebuah Perkebunan Kol'/><author><name>Kemal Permana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SL1x_xKduDI/AAAAAAAAAEU/AJYA9SyJXVk/S220/Stand+alone..11.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4wK5sdmOUCc/SKQ-3HPOgXI/AAAAAAAAACU/e53tUAixFng/s72-c/Horor.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
